Bisnis

Bisnis Online Membabat Keberadaan Pasar Konvensional

Bisnis Online Membabat Keberadaan Pasar Konvensional

Akhir-akhir ini banyak gerai atau toko ritel lokal maupun asing yang tumbang. Beberapa perusahaan pun di ambang kebangkrutan. Mulai dari 7-Eleven, Matahari Departement Store, Nyonya Meneer, sampai yang terbaru raksasa ritel mainan global Toys “R” Us yang terlilit tumpukan utang.

Firmanzah selaku Ekonom sekaligus Rektor Universitas Paramadina menilai bahwa saat ini ekonomi dunia sedang berada pada fase transformasi bisnis yang cukup radikal. Transformasi ini mengarah pada teknologi yang membawa perubahan besar sehingga fenomena runtuhnya bisnis konvensional terjadi di dalam maupun luar negeri.

“Ekonomi dunia sekarang berada pada transformasi bisnis yang radikal. Di kurva ekonomi, tidak lagi moving along to curve, tapi ke shifting (pergeseran). Yang membuat shifting adalah teknologi, sehingga mengubah proses bisnis yang terjadi saat ini,” ujar Firmanzah.

Dirinya menjelaskan bahwa dengan hadir dan berkembangnya teknologi informasi maupun komunikasi telah membabat keberadaan toko ritel konvensional yang selama ini menjadi perantara antara produsen dan konsumen, seperti supermarket ataupun hypermarket. Tidak heran jika toko online (e-commerce) semakin menjamur di dalam maupun luar negeri.

Firmanzah mengungkapkan bahwa toko online tumbuh subur karena didukung berbagai faktor, di antaranya ialah biaya internet yang murah, penetrasi smartphone yang cukup tinggi di masyarakat, sistem logistik yang semakin andal dan juga sistem pembayaran yang terpercaya.

“Faktor-faktor ini yang meningkatkan transaksi e-commerce. Bahkan ada yang menyebut, e-commerce kita akan mendominasi penjualan ritel pada periode 2030,” ujar mantan Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia itu.

Ia mengaku bahwa keberadaan teknologi pun sudah menguasai sektor perbankan. Data terakhir di Eropa menyebutkan ada sekitar 45 ribu kantor cabang bank ditutup karena perubahan pola nasabah dalam bertransaksi maupun mencari informasi. Semua tergantikan oleh internet banking, dan layanan online perbankan lainnya.

“Di Indonesia pun sudah jarang kan ke kantor cabang, sehingga transaksi internet banking melonjak tinggi. Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun mendorong cashless society berbasis teknologi,” terangnya.

“Ada yang menyebut destruktif, dislokasi, tapi saya bilang ini adalah tranformasi bisnis yang cukup radikal,” tutup Firmanzah.

Sumber: liputan6.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *